Minggu, 26 Juli 2009

Chusin Merusak Realisme Lukisan

>Sabtu, 9 Maret 2002

Chusin Merusak Realisme Lukisan

IKAN asin terpotong di dalam bingkai-bingkai persegi. Tubuh perempuan demikian juga, bingkai-bingkai yang memuat potongan-potongan gambar itu menjadi seperti permainan puzzle. Ada juga karya yang sebagian digarap sepenuhnya dengan cat berwarna-warni, sebagian lain hanya dengan arang.
Itulah Chusin Setiadikara (53), seorang pelukis yang piawai membuat gambar-gambar yang tepat seperti dipandang oleh mata kamera. Tetapi, ia tidak hanya memindahkan wujud fotografis itu ke atas kanvas. Ia juga menggubahnya, menyutradarai adegan, memadu berbagai unsur, menggarap suasana, atau mengakali kanvasnya, sehingga memunculkan pemandangan dan kehidupan baru.

Kisah Chusin menggenapi cerita panjang seni lukis bergaya realisme di Indonesia. Puluhan tahun ia terlatih di dalam bahasa realisme fotografis tersebut, dan sekitar 10 tahun terakhir secara bersungguh-sungguh ia mencari jalan baru.

Pamerannya di Galeri Nasional, Jakarta, 20 Februari-6 Maret 2002, menunjukkan kepercayaannya bahwa bahasa visual tersebut tidak macet. Ia bisa menggunakannya untuk suatu tujuan yang berada di luar tradisi gaya seni itu, sebuah dunia lain yang belum jelas benar ujungnya namun sungguh patut untuk ditekuni.

Pernyataan seni ini ia harapkan bisa bergaung pula ke kawasan lain dengan memindahkan pameran ke Washington DC, 7 Juni-15 Juli 2002. Kegiatan seni di Amerika Serikat itu mengambil tempat di CP Artspace, di mana sebelumnya telah berpameran tunggal Sunaryo dan disusul Entang Wiharso.

Bekal kemampuan teknis mencipta rupa realistik pada Chusin diiring oleh kesenangannya memotret. Ia berkali-kali memotret Pasar Kintamani, Denpasar. Dari foto-foto itulah ia menggubah Pasar Kintamani I (1994), yang bukan hanya memberi suasana sebuah pasar tradisional yang segera digusur, tetapi juga pengalaman visual yang hebat. Ia menggambar anak tangga yang menurun menuju kerumunan pedagang dan pembeli. Dalam pameran, lukisan itu dipajang menjorok masuk ke dinding, memberi dimensi baru yang menempatkan pelihat pada anak tangga yang lebih tinggi lagi.

Topik yang juga ia sukai adalah ikan asin. Ia melihat ikan asin bisa mewakili gambaran sebagian masyarakat Indonesia, cukup bergizi dan harganya terjangkau. Dengan membaginya di dalam lima panel (Ikan Asin Tahun 2000, 2000) atau memisahkannya di dalam tiga bidang (Cukup untuk Beli Ikan Asin, 1999), ia seperti ingin menandai adanya sekat-sekat di dalam pergaulan masyarakat. Bisa juga pemisahan itu berfungsi estetik, membuyarkan "rasa" realistik untuk memunculkan gejala rupa yang lebih mendukung. Akibatnya penikmatan terganggu.

Penyekatan atau pemisahan lewat bingkai-bingkai seperti itu memang muncul dalam sejumlah karya. Tujuannya bisa perlambang, mungkin sekadar tanda-tanda sosial atau kultural, atau kebutuhan estetik, dan boleh jadi gabungan dari berbagai fungsi tersebut.

Pada Disharmony (1999) penyekatan itu bisa berfungsi estetik maupun perlambang. Ini merupakan karya "instalasi" yang menggunakan lukisan sebagai unsur-unsurnya. Lukisan itu berupa seorang perempuan menyandarkan kepala ke lengan memegang setangkai mawar yang menunduk itu terbagi di dalam sembilan kotak mirip perangkap atau terali penjara. Di bagian bawah muncul tangan kekar memegang sabit atau celurit. Pada samping kanannya lebih jelas muncul sosok perempuan dengan mulut diplester, dan di atas sebagian wajah dalam gelap.

Apakah ia tengah berbicara tentang nasib perempuan atau kaum terpinggirkan atau minoritas oleh sistem yang menindas? Kalau benar sangat mungkin ia dipicu oleh kerusuhan Mei 1998, dan sama berdaya guna dengan berbagai gaya ungkap yang dilakukan oleh sejumlah seniman lain dalam topik serupa.

Selain instalasi, ia juga menempelkan foto seperti pada Star Track (1997). Lukisan itu juga memberi contoh kesukaannya menggabungkan berbagai ciri lukisan, yaitu realistik dengan model dua gadis berkain Bali, dan lukisan serba pipih dari tradisi lukisan Bali. Misinya tentu ingin menggambarkan betapa Bali (atau Indonesia?) menghidupi berbagai bentuk kebudayaan pada waktu bersamaan. Atau, keragaman budaya adalah keniscayaan.

Yang juga banyak mendapat sorotan pengunjung sepanjang dua pekan pamerannya di Jakarta adalah kesukaannya menggabungkan drawing dan lukisan. Pada sejumlah kanvasnya muncul penggambaran yang "selesai" dengan cat minyak berwarna-warni, dan disandingkan begitu saja dengan arsiran lewat arang. Seorang pria pedagang di pasar bahkan tampak sebagian jaketnya berupa lukisan, separuhnya hanya jejak-jejak garis hitam arang.

Dalam hal ini tampaknya langkah penggabungan itu lebih sebagai pernyataan seni: ia tidak membedakan antara lukisan dan drawing, sebuah tindakan yang juga dilakukan sejumlah seniman.


***
UPAYA Chusin lebih menarik ketika ia mengganggu karyanya yang-bagi orang lain-sudah rampung atau praktis selesai. Gangguan itu tidak sekadar membaginya ke dalam bingkai, menyekat, atau memotong-motong citranya, sehingga penikmatan terganggu.

Chusin memang tidak se-ekstrem para pembuat hiasan bade. Para seniman Bali itu sadar bahwa mereka berkarya khusus untuk dibakar bersama jenazah di tengah upacara ngaben, namun, toh, mereka melakukannya sepenuh hati.

Apa yang Chusin lakukan adalah "merusak" lukisannya sendiri. Ia merusak justru untuk membuatnya sempurna, sebuah laku perbalikan atau peloncatan makna yang sangat menarik.

"Saya harus melakukannya, kalau tidak saya akan tetap menganggap karya saya belum selesai, dan saya akan gelisah terus," tuturnya menunjuk Gadis Kebaya Merah (2001) di ruang pameran.

Tampak di kanvas berukuran 118 cm x 150 cm itu seorang gadis berkebaya merah dan sarung biru dan seorang gadis telanjang. Keduanya tampil sempurna, selesai sampai rincian paling lembut. Sapuan cat warna putih keabuan yang tak beraturan melanda latar, melingkupi si gadis berkebaya, dan tanpa ampun menerjang tubuh bugil yang terletak di atasnya.

Membuat lukisan berisi dua perempuan tersebut memakan waktu panjang. Mencari ide tentang sentuhan akhir itu butuh waktu berbulan-bulan. Ketika Kompas berkunjung ke rumah dan studionya di Bali tahun lalu, ia sudah dua bulan selalu termangu di depan kanvas yang sudah memberi pemandangan hebat. Apa yang ingin ia lakukan memang mengerikan: menghancurkan lukisan yang bagus.

Ketika ketemu cara "menghancurkan" itu, pelaksanaannya sangat singkat. Katanya, "cukup 10 menit saya mainkan kuas, selesai."

Sapuan cat transparan putih keabuan itu menghancurkan komposisi lama, merusak semua hal yang serba rapi dan tertib. Dengan itu muncullah keseimbangan baru: sifat tak beraturan yang menyatu dengan semua unsur yang serba tertib.


***
APAKAH dengan mengganggu penikmatan, membuyarkan citra realistik, dan "menghancurkan" keindahan visual bahasa rupa realistik itu, ia akan melaju di dalam percaturan seni lebih lanjut?

"Saya akan terus mencoba. Saat ini tentu saya belum tahu lagi harus melakukan apa kecuali terus melukis, siapa tahu saya akan menemukan sesuatu nanti," tuturnya. (EFIX)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar